I Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (SMK3) Dalam Upaya Pencegahan Kecelakaan Di Pt. Sinergi Gula Nusantara Pabrik Gula Takalar
Abstract
Latar Belakang: Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pada industri pengolahan gula memiliki tantangan spesifik akibat paparan bahaya fisik, mekanik, dan suhu ekstrem di area produksi. Meskipun regulasi K3 telah ditetapkan, kecelakaan kerja dan near-miss masih berpotensi terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam pengalaman pekerja, dinamika perilaku keselamatan, serta faktor-faktor determinan yang memengaruhi kejadian kecelakaan kerja di PT. Sinergi Gula Nusantara Pabrik Gula (PG) Takalar.Metode: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan studi kasus eksploratif. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling yang terdiri dari pekerja stasiun gilingan dan pengolahan, supervisor K3, serta pihak manajemen operasional (total n=5 informan). Pengumpulan data primer diperoleh melalui wawancara mendalam (in-depth interview), observasi lapangan, dan telaah dokumen laporan kecelakaan. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Data dianalisis secara induktif menggunakan pendekatan analisis tematik.Hasil: Penelitian mengidentifikasi empat tema utama: (1) Dilema Ergonomi dan Alat Pelindung Diri (APD), di mana ketidaknyamanan APD di area bersuhu dan bising tinggi memicu tindakan tidak aman (unsafe action); (2) Persepsi Risiko dan Normalized Deviance, yaitu normalisasi pelanggaran prosedur keselamatan minor karena dianggap sebagai kebiasaan kerja harian; (3) Pengawasan dan Komitmen Manajemen, yang dirasakan belum konsisten terutama pada periode beban kerja puncak (off-season ke in-season); serta (4) Keterbatasan Infrastruktur K3 (Unsafe Condition), terkait penandaan bahaya dan pelindung mesin yang belum optimal di area krusial.Kesimpulan: Kejadian kecelakaan kerja di PG Takalar tidak hanya disebabkan oleh kelalaian individu, melainkan merupakan interaksi kompleks antara faktor lingkungan fisik yang ekstrem, budaya keselamatan kerja, dan konsistensi pengawasan. Diperlukan evaluasi ergonomi APD serta penguatan budaya K3 berbasis partisipasi aktif pekerja.